Oleh: Annisa
Nurul ‘Alam
“Na, bangun. Sholat subuh sana, udah jam setengah enam,” perintah
mbak Fie yang masih tak beranjak dari depan buku LKSnya.
Aku mengeliat dari kasur berseprei batik kebanggaan Indonesia,
mengerjapkan mata melihat sekeliling. Dari balik tirai kamar, sang raja singa
menampakkan sinarnya menerobos celah-celah yang ada, menerangi kamarku yang tak
ada cahaya lampu sama sekali karena lampu kamar yang mati hampir
berminggu-minggu tak diganti oleh pihak asrama. Di samping kasurku, ada Mumun
yang masih dalam posisi tidur tapi sudah memegang handphone yang dilengkapi
fitur untuk menonton TV. Suara mbak Fie